Born on January 16, 1991.
From Bandung, Indonesia.
Menulis adalah
suatu cara untuk bicara,
suatu cara untuk berkata,
suatu cara untuk menyapa,
suatu cara untuk menyentuh seseorang yang lain entah di mana.
Cara itulah yang bermacam-macam dan di sanalah harga kreativitas ditimbang-timbang."
- Seno Gumira Ajidarma -
(Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara)
I love tumblr so much :)
Sheyla Fera Phina
(Source: primzky, via kuntawiaji)
(Source: physicsfighter, via kuntawiaji)
mencoba bernostalgia: saat baru mengenalmu…
ketika kamu harus terus menahan luka tanpa ada obat yang dapat menyembuhkannya,
melainkan luka itu menjadi semakin parah
dan membuatmu putus asa.”
Ketika perempuan marah, bukan berarti dia pemarah.
Melainkan hatinya terluka.
Ketika perempuan itu cuek, bukan berarti dia sombong.
Melainkan dia sedang menahan luka.
Ketika perempuan itu sedih, bukan berarti dia lemah.
Melainkan dia sedang kecewa.
Ketika perempuan itu terlihat bahagia, bukan berarti dia tidak sedang sedih.
Dia hanya tidak ingin terlihat lemah.
Karena, perempuan hanya ingin dimengerti..
Kalau saja kau pernah tau bahwa hatiku 1000 kali lebih rapuh dari yang kau bayangkan .
sehingga ketika sendiri menyendirikan aku, aku akan berubah menjadi manusia yang hanya memiliki setengah kewarasan saja.
Kemudian aku akan berlari mondar-mandir, pontang-panting , dan terbirit-birit.
Lalu menjadi lusuh, kelelahan mencari tempat pelarian yang tak kunjung berbentuk.
Saat-saat seperti itu,
juga memaksa ku mencari bongkahan nafas yang dapat menangkan hati,
setelah kau tinggalkan dalam keadaan galau pada waktu yang lalu.
Dan ketika ku dapati diriku tak menemukan setitik pun apa yang aku cari,
aku akan kehilangan lagi separuh dari setengah kewarasan yang aku punya.
Aku akan menjerit-jerit pelan seperti sapi dan ayam
yang tak rela diambil hak hidupnya
meskipun dibacakan ayat suci ketika proses pemenggalannya.
Aku juga akan menjerit-jerit bising seperti seorang ibu-ibu
yang kehilangan anaknya atau juga kehilangan berliannya.
Dan aku juga akan menjerit-jerit lemas seperti maling yang minta ampun
karena kesakitan dipukuli dan ditendangi banyak orang.
Sampai suaraku habis, bahkan serak pun tak lagi berbunyi.
Lantas ketika aku tak mendapatkan apapun,
maka aku akan merayu lagu-lagu sendu untuk menemani kelelahan yang teramat lemas.
kemudian sambil tersedu aku ikut bernyanyi,
bernyanyi dalam hati karena tak ada sisa suara lagi.
dan akhirnya terkulai
dan akhirnya terberai, antara jiwa dan raga,
dan akhirnya mati tak berbunyi.